Skripsi Matematika 2

Friday, March 16, 2012

Persepsi Guru Matematika Terhadap Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Mata Pelajaran Matematika Di SMA Negeri 1 Makassar. Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar.


ABSTRAK
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif yang meneliti satu variabel tanpa membandingkan dengan variabel yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar. Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah seluruh guru mata pelajaran matematika SMA Negeri 1 Makassar yang mengajar di kelas X dan Kelas XI sebanyak 5 orang. Untuk memperoleh data tentang persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar maka digunakan angket (kuesioner). Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan analisis kuatitatif deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar berada pada kategori baik. Dari hasil wawancara dengan guru matematika menyatakan bahwa faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar adalah; (1) siswa memiliki buku pegangan yang sesuai dengan tuntutan KBK, dan penggunaan strategi pembelajaran yang bervariasi, (2) siswa mempunyai kesadaran tinggi untuk proaktif serta lebih antusias dalam proses belajar, (3) laboratorium komputer dan OHP yang sudah tersedia, (4) siswa dituntut untuk belajar mandiri, dan (5) penilaian per-kompetensi dasar yang memudahkan guru dalam menentukan ketuntasan belajar siswa, pelaksanaan program remedial serta penilaian dari beberapa aspek. Hambatan-hambatan yang dihadapi oleh guru matematika dalam pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika adalah; (1) penjabaran materi pelajaran dan uji kelayakan membutuhkan waktu dan biaya yang cukup, tidak semua guru yang mengajar pernah mengikuti pelatihan atau seminar tentang KBK, (2) buku paket dan modul yang masih sedikit jumlahnya, (3) sebagian siswa yang kurang memiliki kesadaran untuk mempergunakan waktu di luar sekolah, (4) sebagian siswa cenderung hanya mengikuti pekerjaan atau tugas temannya, siswa kurang mampu mengembangkan dan mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya, dan (5) jumlah siswa yang banyak dalam satu kelas.

ABSTRACT
This study was quantitative descriptive research focusing on one variable without comparing with other variables. It aimed to know how mathematics teachers’ perception toward the implementation of the competence-based curriculum of school mathematics at SMA Negeri 1 Makassar. Data were gathered using a questionnaire. Data were analyzed using quantitative descriptive analysis. The results of this research showed that the mathematics teachers’ perceptions toward the implementation of the competence-based curriculum of school mathematics at SMA Negeri 1 Makassar were categorized as good. Based upon the result of interviewing the mathematics teachers, it was found that the factors supporting the implementation of the school mathematics curriculum were: (1) students possessed handbooks which were relevant to the requirements of the curriculum, and teachers implemented various instructional strategies; (2) students were highly aware of being active an enthusiastic during the lesson; (3) the availability of OHP and computer laboratory; (4) students were demanded to learn independently; and (5) the implementation of per-competence assessment which enabled teachers to easily determine the level of students’ mastery in learning, to conduct remedial program, and to assess some aspects. Problems encountered by the mathematics teachers in implementing the curriculum of school mathematics were: (1) the formulation of lesson materials and the administration of feasibility test required adequate fund and time; only some teachers have followed of seminar or training on the competence-based curriculum, (2) the lack of teaching materials including textbooks and learning modules, (3) some students were not aware of the utilization of time to learn outside school time, (4) some students tended to copy their peers’ assignments, student were less able to develop and apply their knowledge, and (5) the big number of students within a classroom.

KATA PENGANTAR

A.   

Alhamdulillahi rabbil ’alamin, puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan petunjuk, rahmat, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai tugas akhir untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar.
Selama penulisan skripsi ini, penulis tidak lepas dari berbagai hambatan dan tantangan. Tetapi berkat usaha, kerja keras, dorongan dari berbagai pihak serta senantiasa diiringi dengan do’a, penulis dapat mengatasi semuanya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih tergolong jauh dari kesempurnaan sebagaimana layaknya suatu karya ilmiah. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat bantuan, bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak, baik berupa moril maupun materil. oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1.       Bapak Prof.Dr.H.M.Idris Arief, M.S., Rektor Universitas Negeri Makassar.
2.       Bapak Drs.H.Muhammad Noor, M.S., Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar.
3.       Bapak Dr. Hamzah Upu, M.Ed., Ketua Jurusan Matematika  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri  Makassar
4.       Bapak Drs. Darwing Paduppai, M. Pd, Sekretaris Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
5.       Bapak Drs. H. Mappaita Muhkal, M.Pd., Kepala Laboratorium Jurusan Matematika  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri  Makassar
6.       Bapak Drs. Suhartono, selaku Pembimbing I dan Drs. H. Bernard, M.S., selaku Pembimbing II yang senantiasa memberikan arahan dan bimbingannya selama penulisan skripsi ini.
7.       Bapak Drs. Hisyam Ihsan, M.Si., Penasehat Akademik yang senantiasa yang senantiasa memberikan arahan dan bimbingannya selama penyelesaian studi kami.
8.       Bapak dan Ibu dosen jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNM Makassar yang telah memberikan bekal dan dorongan selama perkuliahan.
9.       Para Staff/Pegawai Administrasi dan perpustakaan jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNM yang telah memberikan pelayanan hingga penulis menyusun tugas akhir ini.
10.   Bapak Drs. Herman Hading, M.Pd., Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Makassar, yang telah memberikan izin dan bantuannya kepada penulis.
11.   Ibu Dra. Hj. Nursiah Kas. dan Guru SMA Negeri 1 Makassar yang telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada penulis selama pengambilan data.
12.   Bapak Dr. Djunaidi Dedikasih M. Dachlan, MS. dan Ibu Dra. Sani Silwana, M.Ph., serta Bapak/Ibu/Sdr (i) keluarga besar Tompo Tikka, yang dengan ikhlas membantu dalam bentuk moril dan materil demi kesuksesan penulis.
13.   Rekan-rekan mahasiswa angkatan 2001; Hasisah, Asriyati, Nur Alam, Yunus, Amin, Bahar, Muh. Saleh, Irwan, Herman, dan semua rekan-rekan yang tidak sempat disebutkan namanya satu persatu.
14.   Rekan-rekan mahasiswa Bima; Hadi, Udin, Subhan, Muslim, Muis, Irwan, Santi, Farida, Ati, Dani, Nurhaidah, S.Pd. dan semua rekan-rekan yang lain seperjuangan penulis dalam kehidupan di tanah rantau.
15.   Teristimewa buat Ayahanda Usman (Almarhum) dan Ibunda tercinta Hatijah, saudara-saudaraku H.M.Fadil, Fatmah, Ruhyati, zaidin, dan Junari, serta seluruh keluarga yang telah mendo’akan dan merelakan segalanya demi kesuksesan penulis.
Akhirul Qalam, segalanya penulis kembalikan kepada Allah SWT, sebagai konsekuensi penghambaan secara totalitas semata-mata kepada-Nya. Semoga keikhlasan dan bantuan yang telah diberikan walau sekecil biji dzarrahpun memperoleh ganjaran di sisi-Nya (Amin).

Makassar,   Februari 2006

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL                                                                                             ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ….......................................................................... ii
MOTTO     ............................................................................................................. iii
ABSTRAK                                                                                                             . iv
KATA PENGANTAR                                                                                            .. v
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………. viii
DAFTAR TABEL ……........................................................................................   x
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................... ix
BAB I. PENDAHULUAN ….............................................................................   1
A.    Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah ................................................................................. 4
C.     Tujuan Penelitian ................................................................................... 4
D.    Manfaat Penelitian ................................................................................ 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR …..............   6
A.    Tinjauan Pustaka.................................................................................... 6
B.     Kerangka Berpikir ............................................................................... 29
BAB III METODE PENELITAN ………........................................................... 31
A.    Variabel Penelitian .............................................................................. 31
B.     Devinisi Operasional Variabel ............................................................. 31
C.     Objek Penelitian .................................................................................. 31
D.    Teknik Pengumpulan Data .................................................................. 32
E.     Teknik Analisis Data …....................................................................... 33
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN …....................................................... 37
A.    Penyajian Hasil Analisis Data ............................................................. 37
B.     Pembahasan Hasil Penelitian .............................................................. 42
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN …........................................................ 47
A.    Kesimpulan ......................................................................................... 47
B.     Saran                                                                                                     48
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 49
RIWAYAT HIDUP …........................................................................................... 51
LAMPIRAN-LAMPIRAN.................................................................................. 52
LAMPIRAN A INSTRUMEN PENELITIAN.................................................... 52
LAMPIRAN B HASIL ANALISIS DATA ….................................................... 62                                                                                                                                                                                
LAMPIRAN C SURAT-SURAT …..................................................................... 68

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1 Perbedaan Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan Kurikulum 1994    20
Tabel 3.1 Keadaan Guru Matematika Kelas X dan Kelas XII SMA Negeri 1 Makassar …     32

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A: Instrumen Penelitian
LAMPIRAN B: Hasil Analisis Data                                                                                                                                                                                
LAMPIRAN C: Surat-Surat


 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pendidikan adalah penentu terbesar perkembangan masa depan bangsa. Makin besar perhatian kita terhadap bidang pendidikan, ditambah lagi dengan ketepatan arah pendidikan yang dicanangkan, niscaya akan membawa bangsa atau daerah tersebut pada tingkat kemajuan yang memadai, sehingga tidak akan tertinggal atau ditinggalkan oleh bangsa lain. Pendidikan di Indonesia dewasa ini masih jauh tertinggal dibanding pendidikan di negara lain. Untuk mengantisipasi hal tersebut salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah materi atau yang biasa disebut kurikulum.
Kurikulum dalam suatu sistem pendidikan merupakan komponen yang penting. Dikatakan demikian karena kurikulum merupakan penuntun dalam proses belajar mengajar (PBM) di sekolah. Oleh karena itu kurikulum selalu dinamis dan senantiasa dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam faktor-faktor yang mendasarinya. Tujuan pendidikan dapat berubah secara fundamental bila suatu negara yang dijajah menjadi negara yang merdeka, sehingga dengan sendirnya kurikulum pun harus mengalami perubahan yang menyeluruh.
1
 
Kurikulum dapat pula mengalami perubahan bila terdapat pendirian baru mengenai proses belajar mengajar, sehingga timbul berbagai bentuk kurikulum. Perubahan dalam masyarakat, eksplosi ilmu pengetahuan, dan lain-lain mengharuskan adanya perubahan kurikulum. Perubahan-perubahan itu menyebabkan kurikulum yang berlaku tidak lagi relevan, dan ancaman serupa ini akan senantiasa dihadapi setiap kurikulum, betapapun relevannya pada suatu saat.

Agar pendidikan memiliki relevansi dengan perkembangan zaman, maka perlu sekali praktek pendidikan diarahkan pada pendidikan yang berbasis kompetensi. Artinya praktek pendidikan dapat membekali siswa sejumlah keterampilan (life skill). Dengan life skill, yang tidak semata-mata mengandalkan kemampuan akademik melainkan juga non akademik, siswa dapat memaknai perjalanan hidupnya dengan kearifan.
Berkaitan dengan life skill, para guru atau pendidik harus dapat menguasai keterampilan tertentu, sehingga para siswa dapat difasilitasi untuk meningkatkan keterampilan dasarnya menjadi suatu keterampilan yang lebih tinggi. Santoso (dalam Qomari Anwar, 2002) mengatakan bahwa tugas penting seorang pendidik atau guru ialah menguasai keterampilan melatih, dan membimbing siswa supaya mau dan mampu secara cermat dan tekun melakukan observasi terhadap berbagai peristiwa atau persoalan yang terjadi di sekelilingnya.
Dalam rumusan tujuan pembelajaran, life skill didefinisikan sebagai suatu kecakapan mengaplikasikan kemampuan dasar keilmuan atau kejuruan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bermakna dan bermanfaat bagi peningkatan taraf kehidupannya serta harkat dan martabatnya, dan juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya (Suderadjat : 2004).
Sekolah sebagai sebuah masyarakat kecil (mini society) yang merupakan wahana pengembangan peserta didik dituntut untuk menciptakan iklim pembelajaran yang demokratis (democratic instruction) agar terjadi proses belajar mengajar yang menyenangkan (joyfull learning). Dengan iklim yang demikian, pendidikan diharapkan mampu melahirkan calon-calon penerus pembangunan masa depan yang sabar, kompeten, mandiri, kritis, rasional, cerdas, kreatif, dan siap menghadapi berbagi macam tantangan, dengan tetap bertawakal terhadap Sang penciptanya. Untuk kepentingan tersebut diperlukan perubahan yang cukup mendasar dalam sistem pendidikan nasional, yang dipandang oleh berbagai pihak sudah tidak efektif, dan tidak mampu lagi memberikan bekal, serta tidak dapat mempersiapkan peserta didik untuk bersaing dengn bangsa-bangsa lain di dunia. Perubahan mendasar tersebut berkaitan dengan kurikulum, yang dengan sendirinya menuntut dan mempersyaratkan berbagai perubahan pada komponen-komponen pendidikan lain.
Berbagai pihak menganalisis dan melihat perlunya diterapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang dapat membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan yang sesuai dengan tuntutan zaman, guna menjawab tantangan arus globalisasi, berkontribusi pada pembangunan masyarakat dan kesejahteraan sosial, lentur, dan adaptif terhadap berbagai perubahan.
KBK diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan, dengan mempersiapkan peserta didik melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi terhadap sistem pendidikan secara efektif, efisien dan berhasil guna.
Sejak tahun anggaran 2000/2001 Pusat Kurikulum Balitbang Diknas telah melakukan pengembangan KBK. Mulai tahun ajaran 2001/2002 KBK diimplementasikan secara terbatas dalam bentuk mini piloting di beberapa daerah/sekolah. Daerah yang dijadikan mini piloting yaitu Sidoarjo di Jawa Timur, Bandung di Jawa Barat, Serang di Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta dan di DKI Jakarta (Siskandar: 2003). Sementara pemerintah kota Makassar merencanakan untuk memberlakukan KBK pada tahun pelajaran 2003/2004, namun masih banyak sekolah yang belum memberlakukannya, dan pelaksanaannya masih dalam tahap uji coba (Nuryadi: 2004). Berdasarkan informasi yang diperoleh dari salah seorang guru Matematika SMA Negeri 1 Makassar, terdapat beberapa persepsi guru tentang pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar?”.

C.    Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar.

D.    Manfaat Penelitian

Dengan adanya informasi tentang pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mata  pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar, maka manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.       Bagi Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Makassar dapat digunakan sebagai informasi sekaligus sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan terhadap pelaksanaan KBK di SMA Negeri 1 Makassar pada umumnya dan mata pelajaran matematika pada khususnya.
2.       Bagi para pendidik khususnya guru-guru mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar dapat dijadikan sebagai acuan dalam meningkatkan kreatifitas mengajarnya.
3.       Bagi penulis sendiri di samping sebagai latihan dalam usaha penyumbangan buah pikiran secara tertulis, juga sebagai bahan pertimbangan dalam mempersiapkan diri untuk terjun ke lapangan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

B.     Tinjauan Pustaka

1.      Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi
Istilah kurikulum memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakar-pakar kurikulum sejak dulu sampai dewasa ini. Istilah kurikulum berasal dari bahasa Latin, yakni “Curriculae”, artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus merupakan pedoman dalam pelaksanaan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu, kurikulum disusun harus berdasarkan falsafah dan pandangan hidup bangsa.
Ada beberapa tafsiran mengenai kurikulum yaitu: Pertama, kurikulum memuat isi dan materi pelajaran, artinya kurikulum adalah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan. Kedua, kurikulum sebagai rencana pembelajaran, artinya kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Ketiga, kurikulum sebagai pengalaman belajar, artinya kurikulum lebih ditekankan kepada serangkaian pengalaman belajar.
Dalam pengembangan kurikulum, masing-masing ahli kurikulum melihat dari sisi yang berbeda-beda, namun pada dasarnya mengarah pada satu tujuan yang sama. “Lazimnya kurikulum dipandang sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab lembaga pendidikan beserta stafnya” (Nasution 1999: 5).
Soetjipto (1999:148) mengemukakan bahwa kurikulum adalah seperangkat bahan pengalaman belajar siswa dengan segala pedoman pelaksanaannya yang tersususun secara sistematik dan dipedomani oleh sekolah dalam kegiatan mendidik siswanya.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan, 2003: 5)
Menurut Oemar Hamalik (2003: 22) mengemukakan bahwa “Kurikulum dalam arti luas meliputi komponen-komponen yaitu tujuan pendidikan, tujuan instruksional, alat dan metode instruksional, pemilihan dan pembimbingan siswa, materi program, evaluasi dan staf pelaksanaan”.
Lebih rinci lagi Hilda Taba (S. Nasution ; 2003) mengemukakan bahwa:
“Pada hakikatnya tiap kurikulum merupakan suatu cara untuk mempersiapkan anak agar berpartisipasi sebagai anggota yang produktif dalam masyarakatnya. Tiap kurikulum, bagaimanapun polanya, selalu mempunyai komponen-komponen tertentu, yakni pernyataan tentang tujuan dan sasaran, seleksi dan organisasi bahan dan isi pelajaran, bentuk dan kegiatan belajar dan mengajar, dan akhirnya evaluasi hasil belajar”
Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian kurikulum secara luas adalah suatu rencana atau bahan tertulis yang sengaja disusun untuk dijadikan pedoman bagi pelaksanaan pendidikan yang berada di sekolah. Jadi kurikulum tidak hanya merupakan seperangkat mata pelajaran tetapi menyangkut pula bagaimana pelajaran itu diorganisasikan menjadi pengalaman yang berharga bagi siswa.
Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.
Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya (Mulyasa, 2004: 38).
Sejalan dengan itu, Finc dan Crukinton (Mulyasa, 2004: 38) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Menurut Sudjatmiko (2003) untuk menjadi kompeten dalam bidang tertentu, seseorang harus secara konsisten dan terus menerus menunjukkan kompetensi dalam bidang tersebut dalam cara berpikir dan berperilaku/bertindak sehari-hari.
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan suatu format yang menetapkan apa yang diharapkan dapat dicapai siswa dalam setiap tingkatan. Rumusan kompetensi dalam KBK adalah suatu pernyataan tentang apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah dan sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten.
KBK merupakan pergeseran penekanan dan isi (apa yang tertuang) ke kompetensi (bagaimana harus berpikir, belajar dan melakukan) dalam kurikulum. Oleh karena itu guru dan siswa diharapkan dapat mengetahui apa yang harus dicapai dan sejauh mana efektivitas belajar dicapai.
KBK dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Mulyasa, 2004: 39).
 Menurut Sudjatmiko (2003), KBK pada dasarnya merupakan format atau standar yang menetapkan kompetensi apa yang diharapkan dapat dicapai siswa dalam setiap tingkatan kelas atau jenjang tertentu agar memiliki kecakapan hidup sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Dengan demikian, kurikulum ini merupakan pergeseran penekanan dari isi (apa yang tertuang) ke kompetensi (bagaimana berpikir, bersikap, belajar dan melakukan).
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa KBK memfokuskan pada perolehan kompetensi-kompetensi oleh peserta didik karena itu kurikulum ini mencakup sejumlah kompetensi, dan seperangkat tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa, sehingga pencapaian dapat diamati dalam bentuk perilaku atau keterampilan peserta didik sebagai suatu kriteria keberhasilan.
2.      Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi
Karakterstik KBK antara lain mencakup seleksi kompetensi yang sesuai, spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan kesuksesan pencapaian kompetensi, dan pengembangan sistem pembelajaran.
Depdiknas (2002) yang dikutip oleh Mulyasa (2004) mengemukakan bahwa KBK memiliki karakteristik: (a) menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klaksikal, (b) berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman, (c) penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi, (d) sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif, dan (e) penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Mulyasa (2004: 43) mengungkapkan bahwa karakteristik kurikulum berbasis kompetensi, yaitu:
a.      Sitem belajar dengan modul.
KBK menggunakan modul sebagai sistem pembelajaran. Dalam hal ini, modul merupakan paket belajar mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan dan dirancang secara sistematik untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar.
Senada dengan definisi di atas, Erman Suherman, dkk. (2003: 258) mengungkapkan bahwa modul adalah suatu paket pembelajaran yang memuat suatu unit konsep pembelajaran yang dapat dipelajari oleh siswa sendiri (self instruction). Sedangkan menurut Mulyasa (2004) bahwa modul adalah pernyataan satuan pembelajaran dengan tujuan-tujuan, pre tes aktivitas belajar yang memungkinkan peserta didik memperoleh kompetensi yang belum dikuasai dari hasil pre tes, dan mengevaluasi kompetensinya untuk mengukur keberhasilan belajar. Tujuan utama sistem modul adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran di sekolah, baik waktu, dana, fasilitas, maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal.
b.      Menggunakan keseluruhan sumber belajar.
Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) guru tidak lagi berperan utama dalam proses pembelajaran karena pembelajaran dapat dilakukan dengan mendayagunakan aneka ragam sumber belajar. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat memberi kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan, dalam proses belajar mengajar. Sumber belajar tersebut antara lain:
1)    Manusia, yaitu orang yang menyampaikan pesan secara langsung, seperti: guru.
2)    Bahan, yaitu sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, seperti: buku, peta, film pendidikan, dan lain-lain.
3)    Lingkungan, yaitu ruang dan tempat di mana sumber-sumber dapat berinteraksi dengan para peserta didik, misalnya: perpustakaan, laboratorium, ruang kelas, dan lain-lain.
4)    Alat dan peralatan, yaitu sumber belajar untuk memproduksi dan memainkan sumber-sumber lain. Alat dan peralatan untuk memproduksi, misalnya: kamera untuk memproduksi foto, dan tape recorder untuk rekaman. Sedang alat dan peralatan untuk memainkan sumber lain, misalnya komputer, proyektor film, televisi, dan radio.
5)    Aktivitas, yaitu sumber belajar yang biasanya merubah kombinasi antara suatu teknik dengan sumber lain untuk memudahkan belajar, misalnya: pengajaran berprograma merupakan kombinasi antara teknik penyajian bahan dengan buku, contoh lainnya seperti simulasi dan karyawisata.
c.       Pengalaman lapangan.
KBK lebih menekankan pada pengalaman lapangan untuk mengakrabkan hubungan antara guru dengan peserta didik. Keterlibatan anggota tim guru dalam pembelajaran di sekolah memudahkan mereka untuk mengikuti perkembangan yang terjadi selama peserta didik mengikuti pembelajaran. Di samping itu, pengalaman lapangan dapat sistematis melibatkan masyarakat dalam pengembangan program, aktivitas dan evaluasi pembelajaran.
d.      Strategi belajar individual personal.
KBK mengusahakan strategi belajar individual personal. Belajar individual adalah belajar berdasarkan tempo belajar peserta didik, sedangkan belajar personal adalah interaksi edukatif berdasarkan keunikan peserta didik: bakat, minat dan kemampuan (personalisasi).
e.       Kemudahan belajar.
Kemudahan belajar dalam KBK diberikan melalui kombinasi antara pembelajaran individual personal dengan pengalaman lapangan, dan pembelajaran secara tim (team teaching). Hal tersebut dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi yang dirancang untuk itu, seperti video, televisi, radio, buletin, jurnal, dan surat kabar.
f.       Belajar tuntas.
Belajar tuntas dalam KBK merupakan strategi pembelajaran yang dapat dilaksanakan di dalam kelas, dengan asumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang dipelajari. Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistimatis.
3.      Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Pengembangan KBK memfokuskan pada kompetensi tertentu, berupa paduan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat didemonstrasikan oleh peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya.
a.      Tingkat pengembangan kurikulum.
1)    Pengembangan kurikulum tingkat Nasional
2)    Pengembangan kurikulum tingkat lembaga
3)    Pengembangan kurikulum tingkat bidang studi (penyusunan silabus)
4)    Pengembangan kurikulum tingkat satuan bahasan (modul)
b.      Prinsip-prinsip pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Sesuai dengan kondisi negara, kebutuhan masyarakat, dan berbagai perkembangan serta perubahan yang berlangsung dewasa ini, maka dalam pengembangan KBK perlu memperhatikan dan mempertimbangkan prinsip-prinsip yaitu: (1) keimanan, nilai dan budi pekerti luhur, (2) penguatan integrasi nasional, (3) keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika, (4) kesamaan memperoleh kesempatan, (5) abad pengetahuan dan teknologi informasi,(6) pengembangan keterampilan untuk hidup, (7) belajar sepanjang hayat, (8) berpusat pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan komperhensif , dan (9) pendekatan menyeluruh dan kemitraan.
4.      Landasan Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Suderadjat (2004) mengatakan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia melalui pembelajaran dalam bentuk aktualisasi potensi peserta didik menjadi suatu kemampuan atau kompetensi. Dalam istilah kompetensi, potensi adalah kemampuan yang masih terpendam, dan dalam istilah potensi, kompetensi adalah potensi yang telah aktual. Sudrajat melanjutkan bahwa potensi seseorang akan berubah menjadi kompetensi melalui proses belajar dan berlatih.
Kurikulum yang diterapkan di suatu negara tidak terlepas dari kebutuhan bangsa, masyarakat pemakai (Martinis Yamin, 2005: 128–129), maka kurikulum di Indonesia mengacu kepada:
a.       Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999 yang menegaskan perlunya didiversifikasi kurikulum yang dapat melayani keanekaragaman sumber daya manusia, kemampuan siswa, sarana pembelajaran, dan budaya daerah.
b.      Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 (Pasal 4) tentang pemerintahan daerah yang menegaskan adanya kewenangan daerah provinsi, kabupaten, dan kota untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.
c.       Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional (Sisdiknas) nomor 20 tahun 2003 Bab IX (pasal 35) ayat (1) bahwa standar pendidikan terdiri atas isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Ayat (2) standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan. Demikian juga pada Bab X (pasal 36) ayat (2) kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesusai dengan satuan pendidikan, potensi, daerah, dan peserta didik.
5.      Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi
Implementasi adalah suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai dan sikap. Berdasarkan definisi dari implementasi tersebut, maka implementasi KBK dapat didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep dan kebijakan kurikulum (kurikulum potensial) dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Implementasi kurikulum juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis dalam pembelajaran.
Dalam garis besarnya implementasi KBK mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi.
a.    Pengembangan program.
Pengembangan KBK mencakup pengembangan program tahunan, program semester, program modul (pokok bahasan), program mingguan dan harian, program pengayaan dan remedial, serta program bimbingan dan konseling.
1)    Program tahunan.
Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas, yang dikembangkan oleh guru sebelum tahun ajaran, karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya.
2)    Program semester.
Program semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut.
3)    Program modul (pokok bahasan).
Program modul dikembangkan dari setiap kompetensi dan pokok bahasan yang akan disampaiakan.
4)    Program mingguan dan harian.
Program mingguan dan harian merupakan penjabaran dari program semester dan program modul yang bertujuan untuk membantu kemajuan belajar peserta didik.
5)    Program pengayaan dan remedial
Program pengayaan dan remedial merupakan pelengkap dan penjabaran dari program mingguan dan harian.
6)    Program bimbingan dan konseling.
Program bimbingan dan konseling merupakan program yang wajib diberikan oleh sekolah kepada peserta didik yang menyangkut pribadi, sosial, belajar dan karier.
b.    Pelaksanaan pembelajaran.
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Oleh karena itu, dalam melakukan pembelajaran guru memerlukan berbagai strategi. Strategi pembelajaran pada KBK hendaknya menggunakan pendekatan dan metode yang bervariatif (konstruktivisme, inquiry, discovery, contextual learning) sehingga: (1) siswa lebih aktif, (2) iklim pembelajaran menyenangkan, (3) fungsi guru bergeser dari pemberi informasi menjadai fasilitator, (4) materi terkait dengan lingkungan siswa, (5) siswa terbiasa mencari informasi dari berbagai sumber, dan (6) menggeser paradigma pembelajaran dari “teaching” menjadi “learning”.
c.    Evaluasi hasil belajar.
Evaluasi hasil belajar dalam implementasi KBK dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, benchmarking, dan penilaian program.
Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum, dan ujian akhir. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam satuan bahasan atau kompetensi tertentu. Ulangan harian minimal dilakukan tiga kali dalam tiap semester.
Ulangan umum dilaksanakan setiap akhir semester, dengan bahan yang diujikan yaitu; ulangan umum semester pertama soalnya diambil dari materi semester pertama, ulangan umum semester kedua soalnya merupakan gabungan dari materi semester pertama dan kedua, dengan penekanan pada materi semester kedua.
Ujian akhir dilakukan pada akhir program pendidikan. Bahan-bahan yang diujikan meliputi seluruh materi modul yang telah diberikan, dengan penekanan pada bahan-bahan yang diberikan pada kelas-kelas tinggi. Sementara penilaian kelas dilakukan oleh guru untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran, dan penentuan kenaikan kelas.
Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang diperlukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran (program remedial). Tes kemampuan dasar dilakukan pada setiap tahun.
Penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, dilakukan pada setiap akhir semester dan tahun pelajaran, guna mendapatkan gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan waktu tertentu.
Benchmarking merupakan suatu standar untuk mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai suatu keunggulan yang memuaskan. Ukuran keunggulan dapat ditentukan di tingkat sekolah, daerah, atau nasional. Penilaian dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga peserta didik dapat mencapai satuan tahap keunggulan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan usaha dan keuletannya.
Penilaian program dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional dan Dinas Pendidikan secara kontinu dan berkesinambungan. Penilaian program dilakukan untuk mengetahui kesesuaian kurikulum dengan dasar, fungsi dan tujuan pendidikan nasional, serta kesesuaiannya dengan tuntutan perkembangan masyarakat, dan kemajuan jaman.
6.      Peranan Kepala Sekolah dan Guru dalam pengembangan kurikulum
a.    Kepala Sekolah.
Keberhasilan KBK dengan beberapa indikatornya sangat ditentukan oleh kepala sekolah dalam mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menselaraskan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah.
Untuk kepentingan tersebut, kepala sekolah harus mampu memobilisasi sumber daya sekolah. Dalam kaitannya dengan perencanaan dan evaluasi program sekolah, pengembangan kurikulum, pembelajaran, pengelolaan ketenagaan, sarana dan sumber belajar, keuangan, pelayanan siswa, hubungan sekolah dengan masyarakat, dan penciptaan iklim sekolah.
b.    Guru.
Guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan penerapan KBK, bahkan sangat menentukan berhasil-tidaknya peserta didik dalam belajar. Berdasarkan hal tersebut, ada beberapa hal yang harus dipahami guru dari peserta didik, antara lain: kemampuan potensi, minat, hoby, sikap, kepribadian, kebiasaan, catatan kesehatan, latar belakang keluarga, dan kegiatannya di sekolah. Moh. Uzer Usman (2001) mengatakan bahwa guru berperan sebagai pengelola proses belajar mengajar.
Agar implementasi KBK berhasil memperhatikan perbedaan individual, maka guru perlu memperhatikan hal-hal berikut: (1) mengurangi metode ceramah, (2) memberikan tugas yang berbeda bagi setiap peserta didik, (3) mengelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuannya, serta disesuaikan dengan mata pelajaran, (4) bahan harus dimodifikasi dan diperkaya, (5) menghindari ragu untuk berhubungan dengan spesialist, bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan, (6) menggunakan prosedur yang bervariasi dalam membuat penilaian dan membuat laporan, (7) mengingat bahwa peserta didik tidak berkembang dalam kecepatan yang sama, (8) mengusahakan mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap anak bekerja dengan kemampuannya masing-masing pada tiap pelajaran, dan (9) mengusahakan untuk melibatkan peserta didik dalam berbagai kegiatan.
7.      Perbedaan dan keunggulan Kurikulum 2004 dengan Kurikulum 1994
a.    Perbedaan KBK dengan Kurikulum 1994.
Perbedaan Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan kurikulum 1994 disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 2. 1 Perbedaan Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan Kurikulum 1994.
NO
KURIKULUM 1994
KBK
1
Penggunaan pendekatan penguasaan ilmu pengetahuan, yang menekankan pada isi, atau materi berupa pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi yang diambil dari bidang-bidang ilmu pengetahuan.
Penggunaan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi tertentu di sekolah, yang berkaitan dengan pekerjaan yang ada di masyarakat.
2
Standar akademis yang diterapkan secara seragam bagi setiap peserta didik.
Standar akademis yang memperhatikan perbedaan individu, baik kemampuan, kecepatan belajar maupun konteks sosial budaya.
3
Berbasis konten, sehingga peserta didik dipandang sebagai kertas putih yang perlu ditulis dengan sejumlah ilmu pengetahuan.
Berbasis kompetensi, sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap kompetensi-kompetensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan.
4
Pengembangan kurikulum dilakukan secara sentralisasi sehingga Depdiknas memonopoli pengembangan ide dan konsepsi kurikulum.
Pengembangan kurikulum dilakukan secara desentralisasi sehingga pemerintah bersama-sama menentukan standar pendidikan yang dituangkan ke dalam kurikulum.
5
Materi yang dikembangkan dan diajarkan di sekolah sering kali tidak sesuai dengan potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peseta didik, serta kebutuhan masyarakat di sekitar sekolah.
Sekolah diberi keleluasaan untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakata sekitar sekolah.
6
Guru merupakan yang menentukan segala sesuatu yang terjadi di dalam kelas.
Guru sebagai fasilitator yang bertugas mengkondisikan lingkungan untuk memberikan kemudahan belajar peserta didik.
7
Pengetahuan, keterampuilan, dan sikap dikembangkan melalui latihan, seperti latihan mengerjakan soal.
Pengetahuan, keterampuilan, dan sikap dikembangkan berdasarkan pemahaman yang akan membentuk kompetensi individual.
8
Pembelajaran cenderung hanya dilakukan di dalam kelas, atau dibatasi oleh 4 dinding kelas.
Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadinya kerja sama antara sekolah, masyarakat, dan dunia kerja dalam membentuk komposisi peserta didik.
9
Evaluasi nasional yang tidak dapat menyentuh aspek-aspek kepribadian peserta didik.
Evaluasi berbasis kelas, yang menekankan pada proses dan hasil belajar.
Sumber: Mulyasa; 2004
b.    Keunggulan KBK.
KBK mempunyai beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan model-model lain, yaitu: (1) pendekatan KBK bersifat alamiah, (konseptual) karena berangkat, berfokus, dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing, dalam hal ini peserta didik merupakan subjek belajar, dan proses belajar berlangsung secara alamiah dalam bentuk bekerja dan mengalami berdasarkan standar kompetensi tertentu, bukan transfer pengetahuan, (2) KBK mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain penguasaan ilmu pengetahuan, dan keahlian tertentu dalam suatu pekerjaan, kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari serta mengembangkan aspek-aspek kepribadian dapat dilakukan secara optimal berdasarkan kompetensi tertentu, (3) bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang dalam pengembangannya lebih tepat menggunakan pendekatan kompetensi, terutama yang berkaitan dengan keterampilan.

8.      Pengembangan silabus dalam KBK
Penyusunan silabus dapat dilakukan dengan melibatkan para ahli atau instansi yang relevan di daerah setempat seperti tokoh masyarakat, instansi pemerintah, instansi swasta termasuk perusahaan dan industri, dan perguruan tinggi. Bantuan dan bimbingan teknisi untuk penyusunan silabus sepanjang diperlukan dapat diberikan oleh pusat kurikulum.
a.      Prosedur pengembangan silabus KBK.
Untuk memberi kemudahan kepada daerah dan sekolah dalam mengembangkan silabus maka dirasakan perlu menyajikan prosedur pengembangan silabus KBK, yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan revisi.
1)    Perencanaan. Dalam perencanaan ini tim pengembang silabus mengumpulkan informasi dan reverensi, serta mengidentifikasi sumber belajar termasuk nara sumber yang diperlukan dalam pengembangan silabus.
2)    Pelaksanaan. Pelaksanaan penyusunan silabus dapat dilakukan dengan langkah-langkah yaitu; merumuskan kompetensi dan tujuan pembelajaran, serta menentukan materi pembelajaran yang memuat kompetensi dasar, hasil belajar, dan indikator hasil belajar; menentukan metode dan teknik pembelajaran sesuai dengan model pembelajaran; dan menentukan alat penilaian berbasis kelas sesuai dengan misi KBK.
3)    Revisi. Draft silabus yang telah dikembangkan perlu diuji kelayakannya melalui analisis kualitas silabus, penilaian ahli, dan uji lapangan. Berdasarkan uji kelayakan kemudian dilakukan revisi. Revisi ini pada hakikatnya perlu dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan, sejak awal penyusunan draft sampai silabus tersebut dilaksanakan dalam situasi belajar yang sebenarnya
b.      Peran dan Tanggung Jawab Berbagai Pihak dalam Pengembangan Silabus.
Pihak-pihak yang memiliki peran dan tanggung jawab secara langsung dalam pengembangan silabus dalam pengembangan KBK adalah pusat pengembangan kurikulum (Puskur) Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kota dan Kabupaten, serta sekolah yang akan mengimplementasikan KBK, sesuai dengan kapasitas dan proporsinya masing-masing.
9.      Hambatan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Beberapa faktor yang dapat menjadi sumber penghambat dalam proses penerapan KBK mata pelajaran matematika yaitu pertama, dari segi guru sebagai unsur utama yang bertugas sebagai pendidik dalam proses belajar mengajar di kelas. Guru harus mempunyai kualifikasi kompetensi mengajar, meningkatkan kemampuan dan keterampilannya dalam penggunaan metode dan pengelolaan kelas. Untuk mencapai tujuan KBK secara maksimal, guru perlu meningkatkan kemampuannya dengan cara mengikuti penataran-penataran, pelatihan-pelatihan, atau seminar-seminar tentang penerapan KBK.
Kedua, siswa sebagai subjek belajar dalam pelaksanaan pengajaran dapat merupakan suatu sumber hambatan dalam penerapan, misalnya: tingkat kecerdasan, kreativitas, minat, dan jumlah yang tidak sesuai dengan daya tampung ruangan.
Ketiga, sarana dan prasarana dapat juga menjadi sumber hambatan penerapan KBK, misalnya: fasilitas gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium komputer, dan penggunaan alat peraga. Keempat, dari segi alokasi waktu yang merupakan salah satu unsur penghambat dalam penerapan KBK. Kelima, evaluasi atau penilaian yang merupakan proses yang sistematis untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan efisiensi suatu pembelajaran, namun sering juga menjadi penghambat dalam penerapan KBK.
10.  Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Matematika
a.    Pengertian matematika.
Istilah mathematics (Inggris), mathematik (Jerman), mathematique (Perancis), matematico (Itali), matematiceski (Rusia), atau mathematick (Belanda) berasal dari perkataan latin mathematica, yang mulanya diambil dari perkataan Yunani, mathematike, yang berarti “relating to learning”. Perkataan mathematike berhubungan sangat erat dengan sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar (berpikir). Jadi berdasarkan etimologis (Elea Tinggih dalam Erman Suherman, 2003:16), perkataan matematika berarti “ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar”.
James dan James (1976) dalam kamus matematikanya mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri.
Johnson dan Rising (1972) dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah pola pikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide dari pada mengenai bunyi. Sementara Reys, dkk. (1984) mengatakan bahwa matematika adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola pikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat.
Berdasarkan pendapat di atas, maka disimpulkan bahwa ciri yang sangat penting dalam matematika adalah disiplin berpikir yang didasarkan pada berpikir logis, konsisten, inovatif dan kreatif.
b.    Fungsi dan tujuan.
Matematika berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistik, kalkulus dan trigonometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika yang dapat berupa kalimat matematika dan persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel.
Tujuan umum pendidikan matematika ditekankan kepada siswa untuk memiliki:
1)    Kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah matematika, pelajaran lain ataupun masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata.
2)    Kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi.
3)    Kemampuan menggunakan matematika sebagai cara bernalar yang dapat dialihgunakan pada setiap keadaan, seperti berpikir kritis, berpikir logis, berpikir sistematis, bersifat objektif, bersifat jujur, bersifat disiplin dalam memandang dan menyelesaikan suatu masalah.
c.    Ruang lingkup.
Standar kompetensi matematika merupakan seperangkat kompetensi matematika yang dibukukan dan harus ditunjukkan oleh siswa pada hasil belajarnya dalam mata pelajaran matematika. Standar ini dirinci dalam komponen kompetensi dasar beserta hasil belajarnya, indikator dan materi pokok untuk setiap aspeknya. Pengorganisasian dan pengelompokan materi pada materi didasarkan menurut disiplin ilmunya atau didasarkan menurut kemahiran atau kecakapan yang hendak dicapai. Aspek atau ruang lingkup materi pada standar kompetensi matematika adalah bilangan, pengukuran dan geometri, aljabar, trigonometri, peluang dan statistik, dan kalkulus.

d.    Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika.
Untuk mata pelajaran matematika di SMA, telah dirumuskan sembilan standar kompetensi (Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Ditjen. Dikdasmen, Depdiknas; 2003:2) sebagai berikut:
1)    Menggunakan operasi dan sifat serta sifat manipulasi aljabar dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan bentuk pangkat, akar, dan logaritma; persamaan kuadrat dan fungsu kuadrat; sistem persamaan linear-kuadrat; pertidaksamaan satu variabel; logika matematika.
2)    Menggunakan perbandingan fungsi, persamaan, dan identitas persamaan trigonometri dalam pemecahan masalah.
3)    Menggunakan sifat dan aturan geometri dalam menentukan kedudukan titik, garis dan bidang; jarak; sudut; dan volum.
4)    Menggunakan aturan statistika dalam menyajikan dan meringkas data dengan berbagai cara serta memberi tafsiran; menyusun dan menggunakan kaidah pencacahan dalam menentukan banyak kemungkinan; dan menggunakan aturan peluang dalam menentukan dan menafsirkan peluang kejadian majemuk.
5)    Menggunakan manipulasi aljabar untuk merancang rumus trigonometri dan menyusun bukti.
6)    Menyusun dan menggunakan persamaan lingkaran beserta garis singgungnya; menggunakan algoritma pembagian, teorema sisa, dan teorema faktor dalam pemecahan masalah; menggunakan operasi dan manipulasi aljabar dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan fungsi komposisi dan fungsi invers.
7)    Menggunakan konsep limit fungsi dan turunan dalam pemecahan masalah.
8)    Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah.
9)    Merancang dan menggunakan model matematika program linear serta menggunakan sifat dan aturan yang berkaitan dengan barisan, deret, matriks, vektor, transformasi, fungsi eksponen dan logaritma dalam pemecahan masalah.
e.    Pengorganisasian materi.
 Kurikulum berbasis kompetensi ini merupakan standar kompetensi mata pelajaran  matematika  yang harus diketahui, dilakukan dan dimahirkan oleh setiap siswa pada setiap tingkatan. Kerangka ini disajikan dalam empat komponen utama, yaitu: 1) standar kompetensi, yaitu tujuan yang hendak dicapai oleh peserta didik setelah melakukan proses belajar mengajar untuk suatu materi pokok sesuai dengan tingkat pendidikan yang telah ditentukan secara nasional, 2) kompetensi dasar, yaitu kompetensi minimal yang harus dipahami oleh peserta didik setelah mengikuti proses belajar mengajar, 3) indikator, yaitu alat untuk mengukur panguasaan peserta didik terhadap suatu kompetensi dasar, dan 4) materi pokok, yaitu materi pelajaran yang disajikan kepada peserta didik berupa penjabaran sub pokok bahasan dari awal semester sampai akhir semester secara terstruktur.

C.    Kerangka Berpikir

Setelah memperhatikan beberapa uraian yang telah disusun di atas, ada beberapa hal yang menjadi landasan berpikir dan selanjutnya mengarahkan penulis untuk merumuskan data sebagai bahan penelitian ini. Adapun landasan berpikir itu adalah: kurikulum merupakan bahan tertulis yang berisi uraian tentang program pendidikan suatu sekolah yang harus dilaksanakan dari tahun ke tahun. Proses KBK dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kamahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.
Pelaksanaan KBK menuntut guru untuk lebih profesional dalam merancang ataupun menganalisis semua perangkat-perangkat persiapan proses belajar mengajar, sehingga dapat tercapai tujuan yahng diharapkan. Sebagai tenaga pendidik, guru perlu mendapat perhatian utama di samping kurikulumnya, karena baik buruknya suatu kurikulum bergantung pada aktivitas dan kreativitas guru dalam menjabarkan dan merealisasikan kurikulum tersebut. KBK merupakan kurikulum yang baru dikenal beberapa tahun terakhir ini, sehingga perlu mendapat perhatian dan tanggapan yang serius. Berdasarkan hal tersebut, penulis ingin mengetahui dan mendeskripsikan tentang persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK khususnya mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar. Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan dianalisis sehingga menghasilkan suatu kesimpulan.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Variabel  dan Desain Penelitian

Inti kegiatan dalam penelitian ini adalah variabel persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar. Oleh karena itu peneliti hanya ingin mengkaji satu variabel atau tidak mengkaji hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang menggambarkan persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar.

B.     Devinisi Operasional Variabel

Untuk menghindari terjadinya persepsi atau intepretasi yang berlainan antara penulis dengan pembaca, maka dianggap perlu untuk merumuskan variabel penelitian secara operasional.
 Persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK matapelajaran matematika adalah pendapat atau pandangan guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar.

C.    OBJEK PENELITIAN

31
 
Sesuai dengan rumusan masalah dalam penelitian ini, maka yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah guru yaitu seluruh guru matematika yang mengajar di kelas X dan kelas XI sebanyak 5 orang yang ditunjukkan seperti pada tabel berikut ini:

Tabel 3.1. Keadaan guru matematika kelas X dan kelas XI SMA Negeri 1 Makassar
No
Guru
Mengajar di kelas
Mengikuti pelatihan/seminar/
penataran tentang KBK



Pernah
Tidak Pernah
1.
2.
3.
4.
5.
Guru I
Guru II
Guru III
Guru IV
Guru V
X1, X,2 X3
X4, X,5 X6, X7
XI IPA1, XI IPA2, XI IPA3
XI IPA4, XI IPA5, XI IPA6
XI IPS1, XI IPS2, XI IPA7
Ö
Ö
Ö
-
Ö
-
-
-
Ö
-

D.    TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini  adalah:
1.      Angket (kuesioner).
Angket (kuesioner) adalah seperangkat pernyataan yang harus diisi oleh responden untuk mengubah keterangan menjadi data, serta dapat pula digunakan untuk mengungkap pengalaman yang dialami guru dalam melaksanakan KBK. Angket tersebut menggunakan Skala Likert dengan lima alternatif pilihan yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu-ragu (R), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak  Setuju  (STS),  dengan  skor  untuk  pernyataan  positif (favourable) adalah SS = 5, S = 4, R = 3, TS = 2, dan STS = 1 dan sebaliknya untuk pernyataan negatif (unfavourable).
2.      Wawancara
Wawancara merupakan kegiatan tanya jawab secara langsung dengan responden untuk memberikan informasi yang dibutuhkan sehubungan dengan permasalahan penelitian. Pedoman wawancara diberikan kepada 2 orang guru, yaitu masing-masing seorang guru dari kelas X dan kelas XI yang dipilih secara acak. Wawancara yang diberikan secara langsung kepada guru dalam bentuk wawancara terbuka yang berisi beberapa pertanyaan tentang persepsi guru matematika terhadap faktor-faktor pendukung pelaksanaan KBK serta hambatan-hambatan yang dihadapi guru matematika dalam pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika SMA Negeri 1 Makassar.

E.     TEKNIK ANALISIS DATA

Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis kuantitatif deskriptif. Teknik  analisis kuantitatif deskriptif yaitu meliputi tabel persentase dan statistik skor mengenai rata-rata (mean), standar deviasi, variansi, nilai maksimum, nilai minimum, kemiringan (skewness), dan kecembungan (kurtosis) serta pengkategorian karakteristik skor variabel persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar.
Kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori skor hasil penelitian adalah skala Lima. Menurut Erman (Nuryadi; 2004: 40), skala Lima adalah suatu pembagian suatu tingkatan yang terdiri atas lima kategori yaitu:
0% - 39% dikategorikan sangat rendah
40% - 54% dikategorikan rendah
55% - 74% dikategorikan sedang
75% - 89% dikategorikan tinggi
90% - 100% dikategorikan sangat tinggi
Berdasarkan kriteria di atas, maka kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori skor persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK adalah konversi lima nilai yang diasumsikan bahwa orientasinya adalah mengukur tingkat persepsi guru tentang penentuan batas-batas skor nilai tersebut ditentukan berdasarkan skala Lima menurut Erman (Nuryadi; 2004: 40). Untuk merubah dari kategori dalam bentuk persen menjadi kategori dalam bentuk skor dapat digunakan dengan menurunkan rumus penilaian dengan persen menurut Ngalim Purwanto (1994: 102), yaitu:
  
Di mana:
R   : Skor yang diperoleh
NP   : Nilai persen
S   : Skor maksimum ideal, yaitu skor yang diperoleh jika semua butir dijawab maksimal oleh responden atau jumlah butir soal dikali dengan skor tertinggi.
Kategori skor persepsi guru setelah diubah ke batas-batas skor berdasarkan skala lima menurut Erman (Nuryadi; 2004: 40), di mana jumlah soal sebanyak 25 butir soal dengan skor tertinggi 5 (jawaban sangat setuju untuk pernyataan favorable dan sebaliknya), diperoleh skor maksimum idealnya 125. Sehingga  kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori skor persepsi guru adalah sebagai berikut:

0 – 49,38 dikategorikan sangat buruk
49,39 – 68,10 dikategorikan buruk
68,11 – 93,10 dikategorikan sedang
93,11 – 111,85 dikategorikan baik
11,86 – 125 dikategorikan sangat baik
Kategori skor persepsi guru setelah diubah ke batas-batas skor berdasarkan skala lima untuk tiap indikator berbeda sesuai dengan jumlah jumlah butir soal masing-masing indikator.
Kategori persepsi guru tentang pelaksanaan KBK tentang kebijakan dalam KBK, di mana jumlah soal sebanyak 6 butir soal dengan skor tertinggi 5 diperoleh skor maksimum idealnya 30. Sehingga  kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori skor persepsi guru adalah sebagai berikut:
0 – 11,85 dikategorikan sangat buruk
11,86 – 16,35 dikategorikan buruk
16,36 – 22,35 dikategorikan sedang
22,36 – 26,85 dikategorikan baik
26,86 – 30,00 dikategorikan sangat baik
Kategori persepsi guru tentang pelaksanaan KBK tentang sumber dan sarana pendidikan; metode dan strategi belajar mengajar; dan siswa sebagai subjek belajar, di mana jumlah soal sebanyak 5 butir soal dengan skor tertinggi 5 diperoleh skor maksimum idealnya 25. Sehingga  kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori skor persepsi guru adalah sebagai berikut:
0 – 9,82 dikategorikan sangat buruk
9,83 – 13,63 dikategorikan buruk
13,64 – 18,63 dikategorikan sedang
18,64 –22,38 dikategorikan baik
22,39 – 25,00 dikategorikan sangat baik
Kategori persepsi guru tentang pelaksanaan KBK tentang evaluasi/penilaian, di mana jumlah soal sebanyak 4 butir soal dengan skor tertinggi 5 diperoleh skor maksimum idealnya 20. Sehingga  kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori skor persepsi guru adalah sebagai berikut:
0 – 7,9 dikategorikan sangat buruk
8,0 – 10,9 dikategorikan buruk
11,0 – 14,9 dikategorikan sedang
15,0 – 20,0 dikategorikan baik
22,39 – 25,00 dikategorikan sangat baik

BAB IV


 
HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    Penyajian Hasil Analisis Data

Data yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah data tentang persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mata pelajaran matematika, faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika, dan hambatan-hambatan yang dihadapi oleh guru matematika dalam pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar.
1.      Hasil Angket Persepsi Guru Matematika Terhadap Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Mata Pelajaran Matematika

Pada bagian ini disajikan hasil angket yang telah diisi oleh guru mata pelajaran  matematika di SMA Negeri 1 Makassar mengenai persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar, seperti disajikan pada lampiran B.
37
 
Tabel 4.2  pada lampiran B merupakan hasil analisis statistik deskriptif skor persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika, yang menunjukkan bahwa dari jumlah sampel 5 orang memperoleh skor rata-rata persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika adalah 105 dari skor ideal 125, dengan skor tertinggi 108 dan skor terendah 100 serta standar deviasi 3,317. Hal ini juga didukung oleh koefisien kemiringan kurva (skewness) adalah –0,822 dan koefisien kecembungan (kurtosis) sebesar 0,140.

Jika skor variabel persepsi guru tersebut dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan presentase seperti ditujukan pada Tabel 4.4 pada lampiran B, terlihat bahwa tidak ada persepsi guru yang berada pada kategori sangat buruk, buruk, sedang, maupun sangat baik, tetapi semua (100%) persepsi guru berada pada kategori baik.
Jika data skor persepsi guru tentang pelaksanaan KBK dianalisis dengan analisis statistik deskriptif untuk tiap indikator, maka digambarkan seperti pada Tabel 4.5 pada lampiran B.
Tabel 4.5. menggambarkan hasil analisis deskriptif skor persepsi guru matematika tentang kebijakan dalam KBK. Dari 5 orang responden diperoleh skor rata-rata 25,80 dari skor ideal 30, dengan modus 27, skor tertinggi 28 dan skor terendah 23 serta standar deviasi 2,17 yang didukung oleh koefisien kemiringan kurva (skewness) –0,559 dan koefisien kecembungan (kurtosis) –2,368.
Hasil analisis deskriptif skor persepsi guru matematika tentang sumber dan sarana pendidikan diperoleh bahwa dari 5 orang responden diperoleh skor rata-rata 20,60 dari skor ideal 25, dengan modus 19, skor tertinggi 23 dan skor terendah 19 serta standar deviasi 1,82 yang didukung oleh koefisien kemiringan kurva (skewness) 0,567 dan koefisien kecembungan (kurtosis) -2,231.
Hasil analisis deskriptif skor persepsi guru matematika tentang metode dan strategi belajar mengajar diperoleh bahwa dari 5 orang responden diperoleh skor rata-rata 21,80 dari skor ideal 25, dengan modus 21 dan 22, skor tertinggi 23 dan skor terendah 21 serta standar deviasi 0,84 yang didukung oleh koefisien kemiringan kurva  (skewness)  0,512  dan  koefisien  kecembungan  (kurtosis) adalah –6,12.
Hasil analisis deskriptif skor persepsi guru matematika tentang siswa sebagai subjek belajar diperoleh bahwa dari 5 orang responden diperoleh skor rata-rata 21,00 dari skor ideal 25, dengan modus 20 dan 22, skor tertinggi 22 dan skor terendah 20 serta standar deviasi 1,00 yang didukung oleh koefisien kemiringan kurva (skewness) adalah 0,00 dan koefisien kecembungan (kurtosis) sebesar –3,00.
Hasil analisis deskriptif skor persepsi guru matematika tentang evaluasi/peskoran diperoleh bahwa dari 5 orang responden diperoleh skor rata-rata 15,80 dari skor ideal 20, dengan modus 16, skor tertinggi 17 dan skor terendah 14 serta standar deviasi 1,10 yang didukung oleh koefisien kemiringan kurva (skewness) adalah -1,293 dan koefisien kecembungan (kurtosis) sebesar 2,917.
2.      Hasil Wawancara dengan Guru Matematika Tentang Faktor-Faktor Pendukung dan Faktor-faktor Penghambat Pelaksanaan KBK Mata Pelajaran Matematika

Data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan dua orang guru yang mengajar di kelas X dan kelas XI yang diwawancarai secara terpisah yaitu sebagai berikut:
a.    Hasil wawancara dengan guru matematika yang mengajar di kelas X
1)      Kegiatan belajar mengajar
Faktor pendukung pelaksanaan KBK  dari segi kegiatan belajar mengajar adalah siswa memiliki buku pegangan yang sesuai dengan KBK sehingga kegiatan menyalin/dikte diminimalisir dalam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan faktor penghambatnya adalah penjabaran materi pelajaran dalam pengembangan kompetensi dan uji kelayakan membutuhkan biaya dan waktu yang cukup.
2)      Siswa sebagai subyek belajar
Faktor pendukung pelaksanaan KBK  dari segi siswa sebagai subyek belajar adalah siswa mempunyai kesadaran tinggi untuk proaktif dan lebih mandiri dalam belajar. Sedangkan faktor penghambatnya adalah masih ada sebagian siswa yang masih mengharapkan pemberitahuan secara langsung atau transfer ilmu dari guru tanpa mau berusaha secara mandiri untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki.
3)      Sarana dan sumber belajar
Faktor pendukung pelaksanaan KBK  dari segi sarana dan sumber belajar adalah laboratorium komputer dan OHP yang sudah tersedia di sekolah. Sedangkan yang menjadi faktor penghambat adalah buku paket dan modul di sekolah masih minim.
4)      Alokasi waktu
Faktor pendukung pelaksanaan KBK  dari segi alokasi waktu adalah siswa dituntut untuk belajar di sekolah dan di luar sekolah.
5)      Evaluasi/penilaian
Faktor pendukung pelaksanaan KBK dari segi evaluasi/penilaian adalah dalam melakukan penilaian, guru melakukan penilaian per kompetensi dasar sehingga guru tidak merasa kesulitan dalam menentukan ketuntasan belajar siswa. Selain itu, pelaksanaan program remedial yang dilakukan secara lisan maupun tulisan yang dilakukan pada saat jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran. Sedangkan faktor penghambatnya adalah masih ada sebagian siswa cenderung hanya mengikuti pekerjaan temannya dalam mengerjakan tugas untuk suatu kompetensi dasar, sehingga sulit untuk mengetahui ketuntasannya terhadap suatu kompetensi dasar.
b.    Hasil wawancara dengan guru matematika yang mengajar di kelas XI

1)      Kegiatan belajar mengajar.
Faktor pendukung pelaksanaan KBK dari segi kegiatan belajar mengajar adalah penggunaan strategi pembelajaran yang tidak monoton tetapi lebih bervariasi sesuai kreatifitas guru untuk mengembangkan potensi peserta didik. Sedangkan faktor penghambatnya adalah tidak semua guru yang mengajar pernah mengikuti pelatihan atau seminar tentang KBK sehingga pemahaman guru tentang KBK belum terlalu mendalam.
2)      Siswa sebagai subyek belajar.
Faktor pendukung pelaksanaan KBK dari segi siswa sebagai subyek belajar adalah siswa lebih antusias dalam proses belajar mengajar karena guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan maupun mengembangkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Sedangkan faktor penghambatnya adalah kondisi siswa yang heterogen sehingga guru harus memperhatikan kondisi masing-masing siswa dalam pembelajaran.
3)      Sarana dan sumber belajar
Faktor pendukung pelaksanaan KBK dari segi sarana dan sumber belajar adalah laboratorium komputer yang sudah ada serta OHP yang sudah disediakan di setiap ruang kelas. Sedangkan yang menjadi faktor penghambat adalah buku paket matematika di perpustakaan yang masih minim.
4)      Alokasi waktu
Faktor pendukung pelaksanaan KBK dari segi alokasi waktu adalah siswa dituntut untuk belajar mandiri baik pada jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran.
5)      Evaluasi/penilaian
Faktor pendukung pelaksanaan KBK dari segi evaluasi/penilaian adalah penilaian tidak hanya dari ujian tulisan tetapi juga dari aspek-aspek yang lain seperti keaktifan, penampilan dan lain-lain. Sedangkan faktor penghambatnya adalah jumlah siswa yang banyak dalam satu kelas sehingga guru memerlukan waktu dan tenaga yang cukup untuk melakukan penilaian kepada  siswa satu persatu berdasarkan beberapa aspek penilaian.

B.     Pembahasan Hasil Penelitian

Dari hasil analisis di atas, maka berikut ini akan diuraikan pembahasan penelitian yang sekaligus merupakan jawaban dari rumusan masalah dalam penelitian ini:

1.      Persepsi guru matematika terhadap Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Matematika

Tabel 4.2. pada lampiran B merupakan hasil analisis statistik deskriptif skor persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika, yang menunjukkan bahwa dari jumlah sampel 5 orang memperoleh skor rata-rata persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika adalah 105 (kategori baik) dari skor ideal 125 (sangat baik), dengan nilai tertinggi 108 dan nilai terendah 100 serta standar deviasi 3,317. hal ini juga didukung oleh koefisien kemiringan kurva (skewness) sebesar –0,822 yang berarti distribusi skor persepsi guru mempunyai kemiringan negatif, yang menggambarkan bahwa kebanyakan guru mempunyai persepsi baik terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar. selain kemiringan kurva, juga didukung oleh koefisien kecembungan (kurtosis) sebesar 0,140 < 3 yang berarti rata-rata persepsi guru berdistribusi dengan model platikurtik atau mendatar, yang menggambarkan bahwa adanya sebaran frekuensi yang agak tersebar merata pada seluruh interval skor persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar. Sedangkan secara keseluruhan persepsi guru berada pada kategori baik, sehingga dapat dikatakan bahwa persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar adalah baik.
Jika data skor persepsi guru tentang pelaksanaan KBK dianalisis dengan analisis statistik deskriptif untuk tiap indikator, maka digambarkan seperti pada Tabel 4.5 pada lampiran B.
Tabel 4.5. menggambarkan hasil analisis deskriptif skor persepsi guru matematika tentang kebijakan dalam KBK. Dari 5 orang responden memperoleh skor rata-rata 25,80 (kategori baik) dari skor ideal 30, dengan tertinggi 28 dan skor terendah 23 serta standar deviasi 2,17. Hasil analisis deskriptif skor persepsi guru matematika tentang sumber dan sarana pendidikan diperoleh bahwa dari 5 orang responden memperoleh skor rata-rata 20,60 (kategori baik) dari skor ideal 25, dengan skor tertinggi 23 dan skor terendah 19 serta standar deviasi 1,82. Hasil analisis deskriptif skor persepsi guru matematika tentang metode dan strategi belajar mengajar diperoleh bahwa dari 5 orang responden memperoleh skor rata-rata 21,80 (kategori baik) dari skor ideal 25, dengan skor tertinggi 23 dan skor terendah 21 serta standar deviasi 0,84. Hasil analisis deskriptif skor persepsi guru matematika tentang siswa sebagai subjek belajar diperoleh bahwa dari 5 orang responden memperoleh skor rata-rata 21,00 (kategori baik) dari skor ideal 25, dengan skor tertinggi 22 dan skor terendah 20 serta standar deviasi 1,00. Hasil analisis deskriptif skor persepsi guru matematika tentang evaluasi/peskoran diperoleh bahwa dari 5 orang responden memperoleh skor rata-rata 15,80 (kategori baik) dari skor ideal 20, dengan skor tertinggi 17 dan skor terendah 14 serta standar deviasi 1,10.

2.      Faktor-faktor pendukung pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika

Berdasarkan hasil penelitian terdapat beberapa faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika yaitu; siswa memiliki buku pegangan sehingga kegiatan menyalin/dikte diminimalisir dalam kegiatan belajar mengajar, dan penggunaan metode dan strategi pembelajaran yang tidak monoton tetapi lebih bervariasi sesuai kreatifitas guru untuk mengembangkan potensi peserta didik; buku pegangan yang dimiliki siswa berupa buku berdasarkan KBK yang harus dimiliki oleh tiap siswa; siswa mempunyai kesadaran tinggi untuk proaktif dan lebih mandiri dalam belajar, serta siswa lebih antusias dalam proses belajar mengajar karena guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan maupun mengembangkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing siswa, dalam hal ini siswa lebih antusias baik dalam mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, maupun menanggapi suatu masalah; laboratorium komputer yang sudah tersedia serta OHP yang sudah disediakan di setiap ruang kelas; siswa dituntut untuk belajar di sekolah dan di luar sekolah, dan siswa dituntut untuk belajar mandiri baik pada jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran; guru melakukan penilaian per kompetensi dasar sehingga guru tidak merasa kesulitan dalam menentukan ketuntasan belajar siswa, pelaksanaan program remedial yang dilakukan secara lisan maupun tulisan yang dilakukan pada saat jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran/di rumah, serta penilaian tidak hanya dari ujian tulisan tetapi juga dari aspek-aspek yang lain seperti keaktifan, penampilan dan lain-lain.

3.      Hambatan-hambatan yang dihadapi oleh guru matematika dalam penerapan KBK mata pelajaran matematika

Berdasarkan hasil penelitian terdapat beberapa faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan KBK mata pelajaran yaitu; penjabaran materi pelajaran dalam pengembangan kompetensi dan uji kelayakan membutuhkan biaya dan waktu yang cukup, tidak semua guru yang mengajar pernah mengikuti pelatihan atau seminar tentang KBK sehingga pemahaman guru tentang KBK belum terlalu mendalam, di mana dari lima orang guru matematika yang diteliti hanya empat orang guru yang pernah mengikuti penataran atau pelatihan atau seminar tentang KBK; masih ada sebagian siswa yang masih mengharapkan pemberitahuan secara langsung atau transfer ilmu dari guru tanpa mau berusaha secara mandiri untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki, kondisi siswa yang heterogen sehingga guru harus memperhatikan kondisi masing-masing siswa dalam pembelajaran; buku paket dan modul yang masih sedikit jumlahnya; terdapat sebagian siswa yang kurang memiliki kesadaran untuk mempergunakan waktu di luar sekolah sehingga penguasaannya terhadap suatu kompetensi dasar terhambat; sebagian siswa cenderung hanya mengikuti pekerjaan temannya dalam mengerjakan tugas untuk suatu kompetensi dasar, sehingga sulit untuk mengetahui ketuntasannya terhadap suatu kompetensi dasar, siswa kurang mampu mengembangkan life skill dalam mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya, serta jumlah siswa yang banyak dalam satu kelas sehingga guru memerlukan waktu dan tenaga yang cukup untuk melakukan penilaian kepada siswa satu persatu berdasarkan beberapa aspek penilaian.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.      Persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar adalah baik. Hal ini didukung oleh sarana dan prasarana pembelajaran yang cukup memadai seperti laboratorium komputer, OHP, serta alat peraga matematika lainnya, kesadaran masing-masing siswa dengan lebih semangat untuk belajar serta kreatif dalam mengembangkan potensinya.
2.      Faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar adalah sebagai berikut:
§  Siswa memiliki buku pegangan khususnya buku yang sesuai dengan tuntutan KBK sehingga kegiatan menyalin/dikte dapat diminimalisir dalam kegiatan, dan penggunaan strategi pembelajaran yang tidak monoton tetapi lebih bervariasi sesuai kreatifitas guru untuk mengembangkan potensi peserta didik.
§ 

46
 
Siswa mempunyai kesadaran tinggi untuk proaktif dan lebih mandiri dalam belajar, serta siswa lebih antusias dalam proses belajar mengajar karena guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan maupun mengembangkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing siswa.

§  Laboratorium komputer yang sudah tersedia serta OHP yang sudah disediakan di setiap ruang kelas.
§  Guru melakukan penilaian per kompetensi dasar sehingga guru tidak merasa kesulitan dalam menentukan ketuntasan belajar siswa, pelaksanaan program remedial yang dilakukan secara lisan maupun tulisan yang dilakukan pada saat jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran/di rumah, serta penilaian tidak hanya dari ujian tulisan tetapi juga dari aspek-aspek yang lain seperti keaktifan, penampilan dan lain-lain.
3.      Hambatan-hambatan yang dihadapi oleh guru matematika dalam pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar adalah:
§  Penjabaran materi pelajaran dalam pengembangan kompetensi dan uji kelayakan membutuhkan biaya dan waktu yang cukup, tidak semua guru yang mengajar pernah mengikuti pelatihan atau seminar tentang KBK sehingga pemahaman guru tentang KBK belum terlalu mendalam.
§  Masih ada sebagian siswa yang masih mengharapkan pemberitahuan langsung atau transfer ilmu dari guru tanpa mau berusaha secara mandiri untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki, kondisi siswa yang heterogen sehingga guru harus memperhatikan kondisi masing-masing siswa dalam pembelajaran.
§  Buku paket dan modul yang masih minim.
§  Masih ada sebagian siswa yang kurang memiliki kesadaran untuk mempergunakan waktu di luar sekolah sehingga penguasaannya terhadap suatu kompetensi dasar terhambat.
§  Sebagian siswa cenderung hanya mengikuti pekerjaan temannya dalam mengerjakan tugas untuk suatu kompetensi dasar, sehingga sulit untuk mengetahui ketuntasannya terhadap suatu kompetensi dasar, siswa kurang mampu mengembangkan life skill dalam mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya, serta jumlah siswa yang banyak dalam satu kelas sehingga guru memerlukan waktu dan tenaga yang cukup untuk melakukan penilaian kepada siswa satu persatu berdasarkan beberapa aspek penilaian.
B.     Saran
1.      Dari pihak kepala sekolah SMA Negeri 1 Makassar hendaknya sosialisasi mengenai KBK kepada guru perlu ditingkatkan baik melalui penataran, pelatihan-pelatihan, atau seminar-seminar tentang pelaksanaan KBK.
2.      Keberhasilan KBK sangat ditentukan oleh beberapa pihak seperti kepala sekolah, guru, dan siswa sehingga diperlukan sikap positif, kesadaran, dan kesiapan untuk menerima model pendekatan baru pada KBK.
3.      Dari pihak sokolah hendaknya memperhatikan kondisi perpustakaan agar memperbanyak buku paket dan modul khususnya untuk mata pelajaran matematika yang sesuai dengan tuntutan KBK.
4.      Untuk wakil kepala sekolah khususnya bidang kesiswaan agar jumlah siswa  dalam satu kelas perlu diperhatikan sesuai dengan kapasitas dan kondisi kelas.


DAFTAR PUSTAKA


Anwar, Qomari. 2002. Reorientasi Pendidikan dan Profesi Keguruan. Jakarta. Hamka Press.s
Ali, Muhammad. 2002. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung. Sinar Baru Algensindo.
Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Ditjen. Dikdasmen, Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata pelajaran Matematika.
Hamalik, Oemar. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta. Bumi Aksara.
Hasnidar. 2004. Studi Tentang Hambatan Guru Dalam Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata pelajaran Matematika SMA Di Kota Makassar). Skripsi. FMIPA UNM Makassar.
Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep, Karakteristik, Implementasi dan Inovasi. Bandung. Remaja Rosadakarya.
Nasution. S. 2003. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta. Bumi Aksara.
Nurhadi. 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya Dalam KBK. Malang.Universitas Negeri Malang.
Nuryadi. 2004. Studi Tentang Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi pada Mata pelajaran Matematika (Kasus SMU Negeri 3 Makassar). Skripsi. FMIPA UNM Makassar.
Purwanto, Ngalim. 1994. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung. Remaja Rosadakarya
Pusat Kurikulum. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata pelajaran Matematika Sekolah Menengah Umum. Jakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional.
Siskandar. 2003. Pelayanan Profesional Kurikulum 2004 Departemen Pendidikan Nasional (On Line), (www. Google.com, Diakses 6 April 2005).
Soetjipto. 1999. Profesi Keguruan. Jakarta. Rineka Cipta.
Suderadjat, Hari. 2004. Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Bandung. Cipta Cekas Grafika.
Sudjatmiko. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi Dalam Menunjang Kecakapan Hidup Siswa. Jakarta. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktur Tenaga Pendidikan.
Suherman, Erman. dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung. Jica. 
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2001. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung. Remaja Rosdakarya.
Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung. Remaja Rosadakarya.
Yamin, Martinis. 2005. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta. Gaung Persada.

RIWAYAT HIDUP
Wahyudin, lahir di Desa Naru Kecamatan Sape Kabupaten Bima, tanggal 22 Agustus 1981, anak kelima pasangan Ayah yang bernama Usman  (Alm) dan Ibu yang bernama Hatijah.
Penulis mulai memasuki jenjang pendidikan pada tahun 1988 di SDN INP. Na’e Sape dan tamat pada tahun 1994. Pada tahun yang sama melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Sape dan tamat pada tahun 1997. Selanjutnya pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Sape dan tamat pada tahun 2000.
Pada tahun yang sama penulis mencoba mengikuti UMPTN, namun tidak lolos sehingga penulis mengambil inisiatif untuk mendaftarkan diri di IAIN Alauddin Makassar pada Fakultas Tarbiyah tepatnya Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Strata Satu. Setelah satu tahun menjadi mahasiswa IAIN Alauddin Makassar, penulis mencoba lagi mengikuti UMPTN tahun 2001 dan diterima di Universitas Negeri Makassar pada Fakultas MIPA tepatnya di Jurusan Matematika Program Studi Pendidikan Matematika. Adapun organisasi yang pernah digeluti oleh penulis selama menjadi mahasiswa yaitu MPMJ Jurusan Matematika FMIPA UNM dan SCMM FMIPA UNM.
ANGKET PERSEPSI GURU MATEMATIKA TERHADAP PELAKSANAAN KURUKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) UNTUK MATA PELAJARAN MATEMATIKA
Kepada
Yth. Bapak/Ibu Guru Mata pelajaran matematika

Dengan hormat.
Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir studi saya di perguruan tinggi, maka saya bermaksud mengadakan penelitian tentang Pelaksanaan Kurikulum 2004 (sekarang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi)  mata pelajaran Matematika di sekolah Bapak. Oleh karena itu, saya memohon keikhlasan Bapak/Ibu Guru meluangkan waktunya untuk mengisi angket ini sesuai dengan pengalaman di lapangan. Angket ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan penilaian tugas dan profesi Bapak/Ibu Guru. Atas kesediaan Bapak/Ibu Guru saya ucapkan banyak terima kasih.


E.     A. Informasi Umum

Nama                        : ………………………….
Mengajar di kelas     : ………………………….
Pendidikan terakhir  : ………………………….
Mengikuti penataran/diklat tentang KBK: Pernah/Tidak Pernah *)
*) Coret yang tidak perlu

B. Petunjuk Pengisian
Bacalah baik-baik setiap butir yang disediakan dan jawablah setiap pertanyaan dengan memberikan tanda cek (Ö ) pada salah satu pilihan jawaban yang tersedia untuk setiap pernyataan di bawah ini dengan keterangan sebagai berikut:
SS           : Untuk jawaban Sangat Setuju
S             : Untuk jawaban Setuju
R             : Untuk jawaban Ragu-Ragu
TS           : Untuk jawaban Tidak Setuju
STS         : Untuk jawaban Sangat Tidak Setuju

No
Pernyataan
Alternatif Jawaban
SS
S
R
TS
STS

A.    Tentang kebijakan dalam KBK

1
KBK merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam menguasai ilmu dan teknologi.





2
KBK khususnya pada mata pelajaran matematika dapat membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan yang sesuai dengan tuntutan zaman.





3
KBK adalah kurikulum yang kurang cocok diterapkan untuk menghadapi era globalisasi dan perkembangan IPTEK walaupun peserta didik dibekali dengan kompetensi-kompetensi tertentu.





4
KBK tidak memberi peluang bagi siswa untuk mencari, mengolah dan menemukan sendiri pengetahuan walaupun melalui bimbingan guru.





5
KBK dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang berkaitan dengan berbagai bidang kehidupan sehari-hari bagi siswa.





6
KBK tidak dapat dilaksanakan di semua jenjang pendidikan pada semua mata pelajaran, khususnya pada mata pelajaran matematika.





B.     Tentang sumber dan sarana pendidikan

7
Buku mata pelajaran matematika yang mengacu pada KBK kurang mengarahkan siswa untuk memahami kompetensi yang harus dikuasai.





8
KBK khususnya mata pelajaran matematika membutuhkan sumber daya dan sarana pendidikan (seperti perpustakaan, laboratorium, komputer) yang memadai.





9
Dalam pelaksanaan KBK sumber belajar bagi siswa bukan hanya dari guru yang sedang mengajar di dalam kelas.





10
Dalam pelaksanaan KBK bahan belajar yang utama bagi guru beragam seperti buku, brosur, majalah, peta, bahkan lingkungan sekitar yang dipilih sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai.





11
Dalam pelaksanaan KBK media yang bervariasi (seperti komputer, laboratorium, OHP dan lain-lain) kurang berpengaruh dalam menunjang pencapaian kompetensi yang diharapkan.





C.    Tentang metode dan strategi belajar mengajar

12
Metode mengajar dalam KBK kurang mampu membangkitkan semangat siswa untuk lebih aktif, khususnya untuk mata pelajaran matematika.





13
Suasana pembelajaran dalam KBK lebih bervariasi dengan mengkombinasikan antara kegiatan belajar perseorangan, berpasangan, kelompok dan klaksikal.





14
Menurut paradigma pembelajaran dalam KBK khususnya pembelajaran matematika, posisi guru yang paling cocok adalah sebagai fasilitator.





15
Strategi pembelajaran dalam KBK membuat guru menjadi kaku dalam mengajar.





16
Pembelajaran modul hanya menghambat pencapaian kompetensi bagi siswa.





D.    Tentang siswa sebagai subyek belajar

17
KBK sangat memperhatikan perbedaan kondisi siswa sebagai subjek belajar, meliputi perbedaan dalam minat, kemampuan, gaya belajar dan lain-lain.





18
KBK membuat siswa sulit memahami materi pelajaran matematika yang diajarkan.





19
KBK membuat siswa kurang antusias dalam mengikuti pelajaran matematka.





20
Dalam KBK untuk pelajaran matematika, ruang kelas diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan keragaman cara siswa belajar dan bekerja baik secara perorangan, berpasangan atau kelompok. 





21
Cara mengajar guru yang diterapkan pada KBK dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.





E.     Tentang evaluasi/penilaian

22
Dalam melakukan penilaian, selain oleh guru juga dilakukan oleh teman sekelas atau teman kelas lain.





23
Remedial tidak mampu membantu siswa yang belum tuntas pada suatu kompetensi dasar manjadi tuntas.





24
Penilaian per kompetensi dasar membantu guru untuk mengatahui siswa yang sudah tuntas dan belum tuntas untuk suatu kompetensi dasar.





25
Dalam melakukan penilaian, guru harus memperhatikan ketiga ranah (kognitif, afektif dan psikomotorik) yang dicapai oleh siswa.






Kisi-kisi angket persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika
No
Pernyataan
Jenis pernyataan
Favorable
Unfavorable

A.    Tentang kebijakan dalam KBK

1
KBK merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam menguasai ilmu dan teknologi.
Ö
2
KBK khususnya pada mata pelajaran matematika dapat membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan yang sesuai dengan tuntutan zaman.
Ö
3
KBK adalah kurikulum yang kurang cocok diterapkan untuk menghadapi era globalisasi dan perkembangan IPTEK walaupun peserta didik dibekali dengan kompetensi-kompetensi tertentu.
Ö
4
KBK tidak memberi peluang bagi siswa untuk mencari, mengolah dan menemukan sendiri pengetahuan walaupun melalui bimbingan guru.
Ö
5
KBK dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang berkaitan dengan berbagai bidang kehidupan sehari-hari bagi siswa.
Ö
6
KBK tidak dapat dilaksanakan di semua jenjang pendidikan pada semua mata pelajaran, khususnya pada mata pelajaran matematika.
Ö

B.     Tentang sumber dan sarana pendidikan

7
Buku mata pelajaran matematika yang mengacu pada KBK kurang mengarahkan siswa untuk memahami kompetensi yang harus dikuasai.
Ö
8
KBK khususnya mata pelajaran matematika membutuhkan sumber daya dan sarana pendidikan (seperti perpustakaan, laboratorium, komputer) yang memadai.
Ö
9
Dalam pelaksanaan KBK sumber belajar bagi siswa bukan hanya dari guru yang sedang mengajar di dalam kelas.
Ö
10
Dalam pelaksanaan KBK bahan belajar yang utama bagi guru beragam seperti buku, brosur, majalah, peta, bahkan lingkungan sekitar yang dipilih sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai.
Ö
11
Dalam pelaksanaan KBK media yang bervariasi (seperti komputer, laboratorium, OHP dan lain-lain) kurang berpengaruh dalam menunjang pencapaian kompetensi yang diharapkan.
Ö

C.    Tentang metode dan strategi belajar mengajar

12
Metode mengajar dalam KBK kurang mampu membangkitkan semangat siswa untuk lebih aktif, khususnya untuk mata pelajaran matematika.
Ö
13
Suasana pembelajaran dalam KBK lebih bervariasi dengan mengkombinasikan antara kegiatan belajar perseorangan, berpasangan, kelompok dan klaksikal.
Ö
14
Menurut paradigma pembelajaran dalam KBK khususnya pembelajaran matematika, posisi guru yang paling cocok adalah sebagai fasilitator.
Ö

15
Strategi pembelajaran dalam KBK membuat guru menjadi kaku dalam mengajar.
Ö
16
Pembelajaran modul hanya menghambat pencapaian kompetensi bagi siswa.
Ö

D.    Tentang siswa sebagai subyek belajar

17
KBK sangat memperhatikan perbedaan kondisi siswa sebagai subjek belajar, meliputi perbedaan dalam minat, kemampuan, gaya belajar dan lain-lain.
Ö
18
KBK membuat siswa sulit memahami materi pelajaran matematika yang diajarkan.
Ö
19
KBK membuat siswa kurang antusias dalam mengikuti pelajaran matematka.
Ö
20
Dalam KBK untuk pelajaran matematika, ruang kelas diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan keragaman cara siswa belajar dan bekerja baik secara perorangan, berpasangan atau kelompok. 
Ö
21
Cara mengajar guru yang diterapkan pada KBK dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Ö

E.     Tentang evaluasi/penilaian

22
Dalam melakukan penilaian, selain oleh guru juga dilakukan oleh teman sekelas atau teman kelas lain.
Ö
23
Remedial tidak mampu membantu siswa yang belum tuntas pada suatu kompetensi dasar manjadi tuntas.
Ö
24
Penilaian per kompetensi dasar membantu guru untuk mengatahui siswa yang sudah tuntas dan belum tuntas untuk suatu kompetensi dasar.
Ö
25
Dalam melakukan penilaian, guru harus memperhatikan ketiga ranah (kognitif, afektif dan psikomotorik) yang dicapai oleh siswa.
Ö

Pedoman wawancara untuk guru tentang faktor-faktor pendukung serta hambatan-hambatan yang dihadapi guru matematika sehubungan dengan pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar

1.      Mengenai kegiatan belajar mengajar
Efektifitas proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh beberapa hal seperti penjabaran indikator pencapaian hasil belajar, skenario pembelajaran/silabus, penggunaan strategi pembelajaran, pengembangan silabus dan lain-lain. Apa saja yang mendukung pelaksanaan KBK dan hambatan-hambatan apa yang anda hadapi dalam upaya mencapai proses belajar mengajar  yang lebih efektif sesuai dengan tuntutan KBK?

2.      Mengenai siswa sebagai subyek belajar
Salah satu hal yang membedakan antara KBK dengan kurikulum sebelumnya yaitu siswa dipandang sebagai subyek belajar sehingga segala aspek yang dialami, dimiliki atau dibutuhkan oleh siswa harus diperhatikan. Apa saja yang mendukung pelaksanaan KBK dan hambatan-hambatan apa yang anda hadapi dalam pelaksanaan KBK dari segi siswa sebagai subyek belajar?

3.      Mengenai sarana dan sumber belajar.
Dalam penerapan KBK khususnya mata pelajaran matematika, sarana dan sumber belajar sangat penting guna mendukung efektifitas proses belajar mengajar. Apa saja yang mendukung pelaksanaan KBK dan hambatan-hambatan apa yang anda hadapi sehubungan dengan hal itu?

4.      Mengenai alokasi waktu
Dalam pengembangan silabus, alokasi waktu untuk setiap pokok bahasan sudah ditentukan terlebih dahulu. Apa saja yang mendukung pelaksanaan KBK dari segi alokasi waktu dan apakah anda menemukan hambatan sehubungan dengan alokasi waktu yang diberikan untuk mencapai suatu kompetensi dasar dalam pembelajaran?

5.      Mengenai evaluasi/penilaian
Evaluasi hasil belajar dalam KBK dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, benchmarking (patokan keberhasilan di tingkat yang lebih tinggi), serta penilaian program. Faktor apa saja yang mendukung pelaksanaan KBK dari segi penilaian dan penilaian yang mana yang merupakan hambatan bagi anda dalam melakukan evaluasi?

Hasil wawancara dengan guru matematika kelas X tentang faktor-faktor pendukung serta hambatan-hambatan yang dihadapi guru matematika sehubungan dengan pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika
di SMA Negeri 1 Makassar

1.      Mengenai kegiatan belajar mengajar
Pendukung  : Masing-masing siswa memiliki buku pegangan sehingga kegiatan menyalin/dikte diminimalisir dalam kegiatan belajarmengajar
Penghambat    : Penjabaran materi pelajaran dalam pengembangan kompetensi dan uji kelayakan membutuhkan biaya yang cukup

2.      Mengenai siswa sebagai subyek belajar
Pendukung  : Siswa mempunyai kesadaran tinggi untuk proaktif dan lebih mandiri dalam belajar
Penghambat    : Masih ada sebagian siswa yang masih mengharap “suapan” atau transfer ilmu dari guru tanpa mau berusaha secara mandiri untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki.

3.      Mengenai sarana dan sumber belajar.
Pendukung  : Laboratorium komputer dan OHP yang sudah tersedia.
Penghambat    : Buku paket dan modul yang masih minim.

4.      Mengenai alokasi waktu
Pendukung  : Siswa dituntut untuk belajar di sekolah dan di luar sekolah
Penghambat    :          Ada sebagian siswa yang kurang memiliki kesadaran untuk mempergunakan waktu di luar sekolah sehingga penguasaannya terhadap suatu kompetensi dasar terhambat.

5.      Mengenai evaluasi/penilaian
Pendukung  :  Dalam pelaksanaannya, guru melakukan penilaian per kompetensi dasar sehingga guru tidak merasa kesulitan dalam menentukan ketuntasan belajar siswa; pelaksanaan program remedial yang dilakukan secara lisan maupun tulisan yang dilakukan pada saat jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran/ di rumah.
Penghambat    :          Sebagian siswa cenderung hanya mengikuti pekerjaan temannya dalam mengerjakan tugas untuk suatu kompetensi dasar, sulit untuk mengetahui ketuntasannya terhadap suatu kompetensi dasar; siswa kurang mampu mengembangkan life skill dalam mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya.

Hasil wawancara dengan guru matematika kelas XI tentang faktor-faktor pendukung serta hambatan-hambatan yang dihadapi guru matematika sehubungan dengan pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika
di SMA Negeri 1 Makassar

1.      Mengenai kegiatan belajar mengajar
Pendukung  : Penggunaan strategi pembelajaran yang tidak monoton tetapi lebih bervariasi sesuai kreatifitas guru untuk mengembangkan potensi peserta didik
Penghambat    : Tidak semua guru yang mengajar pernah mengikuti pelatihan atau seminar tentang KBK sehingga pemahaman guru tentang KBK belum terlalu mendalam.

2.      Mengenai siswa sebagai subyek belajar
Pendukung  : Siswa lebih antusias dalam proses belajar mengajar karena guru memberikan kesempatan kesempatan kepada siswa untuk menemukan maupun mengembangkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing siswa.
Penghambat    : Kondisi siswa yang heterogen sehingga guru harus memperhatikan kondisi masing-masing siswa dalam pembelajaran.

3.      Mengenai sarana dan sumber belajar.
Pendukung  : Laboratorium komputer yang sudah tersedia dan OHP yang sudah disediakan di setiap ruang kelas.
Penghambat    : Buku paket matematika di perpustakaan yang masih minim.

4.      Mengenai alokasi waktu
Pendukung  : Siswa dituntut untuk belajar mandiri baik pada jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran.
Penghambat    :          Tidak ada

5.      Mengenai evaluasi/penilaian
Pendukung  :  Penilaian tidak hanya dari ujian tulisan tetapi juga dari aspek-aspek yang lain seperti keaktifan, penampilan dan lain-lain.
Penghambat    :          Jumlah siswa yang banyak dalam satu kelas sehingga guru memerlukan waktu dan tenaga yang cukup untuk melakukan penilaian kepada siswa satu persatu berdasarkan beberapa aspek penilaian.
Tabel 4.1 Skor hasil angket persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar
Resp.
NOMOR BUTIR
å
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
1
4
5
4
4
5
5
4
4
3
5
3
4
4
5
4
5
3
4
4
5
5
4
4
4
4
105
2
5
5
5
4
5
4
4
5
5
4
4
5
4
5
4
4
4
4
4
5
5
1
3
5
5
108
3
4
5
5
4
5
4
3
4
5
5
2
5
4
4
5
5
4
5
5
4
4
4
4
4
5
108
4
4
4
3
4
5
4
4
5
5
5
4
5
4
5
4
3
4
4
4
4
4
3
4
4
5
104
5
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
5
4
4
4
4
4
4
4
4
4
100

Tabel 4.2 Persentase skor hasil angket persepsi guru matematika terhadap pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika
                di SMA Negeri 1 Makassar
No.
Butir
Jawaban
Jumlah

No. Butir
Jawaban
Jumlah
SS
S
R
TS
STS

SS
S
R
TS
STS
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%

f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
1
1
20%
3
60%
1
20%
0
0%
0
0%
5
100%

14
3
60%
2
40%
0
0%
0
0%
0
0%
5
100%
2
3
60%
2
40%
0
0%
0
0%
0
0%
5
100%

15
0
0%
0
0%
0
0%
4
80%
1
20%
5
100%
3
0
0%
0
0%
1
20%
2
40%
2
40%
5
100%

16
0
0%
0
0%
1
20%
1
20%
3
60%
5
100%
4
0
0%
0
0%
0
0%
5
100%
0
0%
5
100%

17
0
0%
4
80%
1
20%
0
0%
0
0%
5
100%
5
4
80%
1
20%
0
0%
0
0%
0
0%
5
100%

18
0
0%
0
0%
0
0%
4
80%
1
20%
5
100%
6
0
0%
0
0%
0
0%
4
80%
1
20%
5
100%

19
0
0%
0
0%
0
0%
4
80%
1
20%
5
100%
7
0
0%
0
0%
1
20%
4
80%
0
0%
5
100%

20
2
40%
3
60%
0
0%
0
0%
0
0%
5
100%
8
2
40%
3
60%
0
0%
0
0%
0
0%
5
100%

21
2
40%
3
60%
0
0%
0
0%
0
0%
5
100%
9
3
60%
1
20%
1
20%
0
0%
0
0%
5
100%

22
0
0%
3
60%
1
20%
0
0%
1
20%
5
100%
10
3
60%
2
40%
0
0%
0
0%
0
0%
5
100%

23
0
0%
0
0%
1
20%
4
80%
0
0%
5
100%
11
0
0%
1
20%
1
20%
3
60%
0
0%
5
100%

24
1
20%
4
80%
0
0%
0
0%
0
0%
5
100%
12
0
0%
0
0%
0
0%
2
40%
3
60%
5
100%

25
3
60%
2
40%
0
0%
0
0%
0
0%
5
100%
13
0
0%
5
100%
0
0%
0
0%
0
0%
5
100%















F.                   Tabel 4.3 Statistik Skor Persepsi guru matematika terhadap Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi Matapelajaran Matematika di SMA Negeri 1 Makassar



Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent

Valid
100
1
20.0
20.0
20.0


104
1
20.0
20.0
40.0


105
1
20.0
20.0
60.0


108
2
40.0
40.0
100.0


Total
5
100.0
100.0


G.                   

Nilai Statistik
N
Valid
5


Missing
0

Mean

105.0000

Std. Error of Mean

1.4832

Median

105.0000

Mode

108.00

Std. Deviation

3.3166

Variance

11.0000

Skewness

-.822

Std. Error of Skewness

.913

Kurtosis

.140

Std. Error of Kurtosis

2.000

Range

8.00

Minimum

100.00

Maximum

108.00

Sum

525.00


D.    CHART

 

Tabel 4.4 Kategori Skor, Distribusi Frekuensi dan Presentase Persepsi Guru Matematika Terhadap Pelaksanaan KBK Mata Pelajaran Matematika.
Skor
Kategori
Frekuensi
Persentase
0    49,38
49,39 – 68,10
68,11 – 93,10
93,11 – 111,85 11,86 – 125
Sangat buruk
Buruk
Sedang
Baik
Sangat baik
0
0
0
5
0
0
0
0
100%
0
Jumlah
5
100%

H.                  Tebel 4.5. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Skor Persepsi Guru Matematika Terhadap Pelaksanaan KBK Mata Pelajaran Matematika Untuk Tiap Indikator.

Statistik

Indikator

Kebijakan dalam KBK
Sumber dan sarana pendidikan
Metode dan strategi mengajar
Siswa sebagai subjek belajar
Evaluasi/ penilaian
Mean
25.80
20.60
21.80
21.00
15.80
Median
27.00
20.00
22.00
21.00
16.00
Mode
27
19
21
20
16
Std. Dev.
2.17
1.82
0.84
1.00
1.10
Variance
4.70
3.30
0.70
1.00
1.20
Skewness
-0.559
0.567
0.512
0.000
-1.293
Kurtosis
-2.368
-2.231
-0.612
-3.000
2.917
Range
5
4
2
2
3
Minimum
23
19
21
20
14
Maximum
28
23
23
22
17
Sum
129
103
109
105
79

I.                       

J.                    Tabel 4.6. Tabel Frekuensi Dan Histogram Skor Persepsi Guru Matematika Tentang   Kebijakan Dalam KBK



Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
23
1
20.0
20.0
20.0


24
1
20.0
20.0
40.0


27
2
40.0
40.0
80.0


28
1
20.0
20.0
100.0


Total
5
100.0
100.0



K.                  Tabel 4.7. Frekuensi dan Histogram Skor Persepsi Guru Matematika Tentang Siswa Sebagai Subyek Belajar



Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent

Valid
19
2
40.0
40.0
40.0


20
1
20.0
20.0
60.0


22
1
20.0
20.0
80.0


23
1
20.0
20.0
100.0


Total
5
100.0
100.0


L.        

M.                  

N.                  Tabel 4.8. Frekuensi Dan Histogram Skor Persepsi Guru Matematika Tentang Sarana dan Sumber Belajar



Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent

Valid
21
2
40.0
40.0
40.0


22
2
40.0
40.0
80.0


23
1
20.0
20.0
100.0


Total
5
100.0
100.0


O.       

P.        


Q.      Tabel 4.9. Frekuensi dan Histogram Skor Persepsi guru matematika tentang Alokasi Waktu



Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent

Valid
20
2
40.0
40.0
40.0


21
1
20.0
20.0
60.0


22
2
40.0
40.0
100.0


Total
5
100.0
100.0


R.        

S.        

T.                   Tabel 4.10. Frekuensi dan Histogram Skor Persepsi guru matematika tentang Evaluasi/Penilaian



Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent

Valid
14
1
20.0
20.0
20.0


16
3
60.0
60.0
80.0


17
1
20.0
20.0
100.0


Total
5
100.0
100.0


U.       

V.       







 

0 komentar:

Post a Comment

 

Pengikut

Copyright © ZONA SKRIPSI All Rights Reserved • Design by Dzignine
best suvaudi suvinfiniti suv